Makna Tersirat dalam Lagu Lir-Ilir

Sebelum masuknya agama Islam, Nusantara didominasi oleh budaya Hindu Budha. Dominasi ini kemudian berakhir ketika era Walisongo, simbol penyebaran Islam di Nusantara. Walisongo menggunakan media dakwah berupa syair sebagai wujud kebudayaan serta ekspresi seni sastra dalam penyebaran ajaran Islam kepada para pemeluk Hindu Budha. Salah satu yang masih sering kita dengan sampai hari ini adalah syair berbahasa Jawa berjudul Lir-ilir ciptaan Sunan Kalijaga. Makna lagu Lir-ilir begitu dalam dan sarat akan nilai moral yang luhur serta budi pekerti yang sesuai syariat agama Islam.

Lirik lagu Lirilir dan makna denotasinya

Pixabay.com

 

Berikut ini lirik lagu Lir-ilir beserta terjemahannya:

 

Lir-ilir, Lir-ilir

(Bangunlah, bangkitlah)

 

Tandure wus sumilir

(Tanaman telah mulai bersemi)

 

Tak ijo royo-royo

(Warna hijau yang menyegarkan)

 

Tak sengguh temanten anyar

(Bak pengantin baru)

 

Cah angon, cah angon

(Wahai anak gembala, anak gembala)

 

Penekno belimbing kuwi

(Panjat belimbing itu)

 

Lunyu-lunyu penekno

(Meski licin, tetaplah memanjat)

 

Kanggo mbasuh dodotira

(Untuk membasuh baju atau pakaianmu)

 

Dodot ira, dodot ira

(Pakaianmu, ya pakaianmu)

 

Kumitir bedhah ing pinggir

(Telah rusak dan jahitannya terlepas pada bagian tepi)

 

Dondomono, jlumatono

(Jahitlah, perbaikilah)

 

Kanggo seba mengko sore

(Untuk hadapi sore atau akhir nanti)

 

Mumpung padhang rembulane

(Selagi bulan masih terang benderang)

 

Mumpung jembar kalangane

(Selagi tempat masih luas dan lapang)

 

Ya surako, surak hiya

(Bersorak sorailah dengan seruan hiyo)

 

Falsafah hidup dalam makna lagu Lir-ilir

Pixabay.com

Lagu Lir-ilir selama ini dikenal sebagai tembang dolanan Jawa. Namun sebenarnya lagu ini bukan hanya sekedar tembang dolanan tradisional biasa. Lagu Lir-ilir memiliki lirik yang filosofis dan penuh makna.

 

  • Lir-ilir, lir-ilir (Bangunlah, bangkitlah)

Seruan tentang kesadaran beragama. Selalu bersiap untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

 

  • Tandure wus sumilir (Tanaman telah mulai bersemi)

Benih keimanan sudah mulai tumbuh dan harus dirawat dengan baik.

 

  • Tak ijo royo-royo (Warna hijau yang menyegarkan)

Ketika segala perintah Allah SWT sudah dilaksanakan dan larangan-Nya diajuhi, maka hidup akan merasa tentram dan bahagia. Bagaikan tanaman yang hijau, segar, dan membawa kebahagiaan.

 

  • Tak sengguh temanten anyar (Bak pengantin baru)

Kebahagiaan tersebut bagaikan kebahagiaan sepasang pengantin baru. Kebahagiaan pada awal kehidupan baru.

 

  • Bocah angon, bocah angon (Wahai anak gembala, anak gembala)

Anak gembala menggambarkan sikap seorang pemimpin yang memiliki jiwa mengayomi. Manusia harus berlaku adil dan bijaksana terhadap sesama dengan dasar syariat Islam dan hendaknya menjadi pemimpin yang baik dalam keluarga.

 

  • Penekno belimbing kuwi (Panjat belimbing itu)

Lima segi pada buah belimbing melambangkan lima rukun Islam. Penggalan ini mengisyaratkan bahwa manusia harus senantiasa berpegang teguh pada rukun Islam dalam membawa hati dan pikirannya.

 

  • Lunyulunyu penekno (Meski licin, tetaplah memanjat)

Teruslah berusaha meski dihadapkan dengan berbagai halangan maupun kesulitan. Manusia harus tetap gigih dalam menghadapi cobaan dan rintangan demi menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya.

 

  • Kanggo mbasuh dodotira (Untuk membasuh baju atau pakaianmu)

Manusia harus selalu berusaha untuk membersihkan diri dari segala pikiran dan perangai buruk. Jika manusia terus menegakkan ibadah, maka segala yang baik akan mengikuti. Kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akhirat pun akan terpenuhi.

 

  • Dodot ira, dodot ira (Pakaianmu, ya pakaianmu)

Pakaian menggambarkan akhlak manusia yang tertanam dalam jiwa dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa manusia harus senantiasa melakukan perbuatan yang baik dengan jiwa bersih. Pakaian manusia di dunia adalah laku hidup menurut syariat Islam.

 

  • Kumitir bedhah ing pinggir (Telah rusak dan jahitannya terlepas pada bagian tepi)

Akhlak dapat terkikis atau merosot jika tidak ditanam dan dirawat dengan baik. Manusia rentan melakukan kemaksiatan ketika akhlak mulai goyah. Hal ini akan membawa kerugian besar bagi manusia.

 

  • Dondomono, jlumatono (Jahitlah, perbaikilah)

Ketika pakaian rusak atau robek, maka perbaikilah. Begitu pula dengan akhlak yang mulai mengalami kemerosotan. Manusia hendaknya kembali menyucikan diri demi mencapai ketentraman hati. Segala masalah harus dihadapi dan diselesaikan dengan laku yang baik. Manusia tidak boleh terus membiarkan terjadinya kerusakan, baik perilaku, moral, maupun pikiran yang mendasari kehidupan.

 

  • Kanggo seba mengko sore (Untuk hadapi sore atau akhir nanti)

Sore nanti menyiratkan tentang kehidupan di masa mendatang, baik di dunia maupun akhirat. Akhlak yang baik akan menuntun manusia kepada kesejahteraan dan kemakmuran hidup. Jika iman dan akhlak terus dipupuk niscaya ketentraman dunia akhirat pun terpenuhi. Sore juga dapat berarti peghujung hidup atau saat menghadap Allah SWT.

 

  • Mumpung padhang rembulane (Selagi bulan masih terang benderang)

Manusia hendaknya terus berbenah dan memerbaiki diri, baik dari segi akhlak, keimanan, maupun perilaku. Manusia harus selalu menegakkan ibadah dan beramal baik selagi masih ada kesempatan hidup di dunia. Manusia hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu dan selalu menjaga setiap perkataan maupun perbuatan.

 

  • Mumpung jembar kalangane (Selagi tempat masih luas dan lapang)

Luas menggambarkan kesempatan. Manusia hendaknya selalu membekali diri dengan amal baik dan memenuhi hari-harinya dengan segala perbuatan yang sesuai dengan syariat Islam. Manusia hendaknya selalu berjalan di jalan kebenaran, yaitu jalan Allah SWT sebelum datang kesempitan (kematian).

 

  • Ya surako, surak hiya (Bersorak sorailah dengan seruan hiyo)

Manusia harus menjalankan segala sesuatu dengan rasa syukur. Manusia hendaknya selalu berserah diri kepada Allah SWT dalam menjalani kehidupan agar mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.